Selasa, 04 Mei 2010

PERMASALAHAN REMAJA DAN UPAYA-UPAYA PENANGANANNYA

A. PENDAHULUAN
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Yang dimaksud dengan masalah remaja adalah masalah-masalah yang dihadapi oleh para remaja sehubungan dengan adanya kebutuhan-kebutuhan mereka dalam rangka penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Pemahaman penyesuaian diri pada remaja sangat penting dipahami oleh setiap remaja karena masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Setiap individu mengalami perubahan baik fisik maupun psikologis.
Seorang ahli bernama Schneiders mengemukakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses mental dan tingkah laku yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri sesuai dengan keinginan yang berasal dari dalam diri sendiri dan dapat diterima oleh lingkungannya. Lebih jauh ia memberi pengertian bahwa penyesuaian diri itu baik atau buruk selalu melibatkan proses mental dan respon tingkah laku. Penyesuaian diri merupakan usaha-usaha individu untuk mengatasi kebutuhan dari dalam diri, ketegangan, frustasi, dan konflik serta untuk menciptakan keharmonisan atas tuntutan-tuntutan dalam dunia sekitar. Pada masa penyesuaian diri ini peran orang tua dan lingkungan sangat berpengaruh dalam mencapai keberhasilan dalam melakukan penyesuaian diri untuk membangun jati diri yang baik. Orang tua bertugas untuk memberi tauladan dan mengawasi tindak tanduk tetapi tidak dengan mengekang semua kegiatanya, serta memberikan kebebasan yang bertanggung jawab, misalnya berilah kebebasan kepada anak anda untuk bergaul dengan siapapun dan dari strata manapun asalkan tidak membawa pengaruh yang buruk baginya.
Orang tua hendaknya membiasakan anak untuk mengenal dengan baik lingkungan sekitarnya agar mereka mampu beradaptasi dengan baik dimanapun mereka berada. Orang tua hendaknya juga bisa menjadi teman bagi anaknya terutama pada masa remaja sehingga anak bisa terbuka tentang segala masalah yang dihadapinya, karena dengan itu orang tua mampu mengawasi secara tidak langsung kegiatan- kegiatan yang dilakukannya.

B. PEMBAHASAN
1. Implikasi Proses Penyesuaian Diri Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (remaja) terhadap penyelenggaraan Pendidikan
Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa remaja. Selain mengemban fungsi pengajaran, sekolah juga mengemban fungsi pendidikan (tranformasi nilai dan norma sosial). Dalam kaitan dengan pendidikan, peran sekolah tidak jauh berbeda dengan peran keluarga, yaitu sebagai tempat perlindungan jika anak mengalami masalah. Oleh karena itu, di setiap sekolah lanjutan diadakan guru bimbingan dan penyuluhan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mempelancar proses penyesuaian diri remaja di sekolah adalah sebagai berikut.
a. Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa betah bagi siswa, baik secara sosial, fisik maupun akademis.
b. Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan bagi siswa.
c. Berusaha memahami siswa secara menyeluruh, baik prestasi belajar, social, maupun aspek pribadinya.
d. Menggunakan metode dan alat mengajar yang mendorong gairah belajar.
e. Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat memperbesar motivasi belajar.
f. Menciptakan ruangan kelas yang memenuhi syarat kesehatan.
g. Membuat tata tertib sekolah yang jelas dan dipahami siswa.
h. Adanya keteladanan dari para guru dalam segala aspek pendidikan.
i. Mendapatkan kerja sama saling pengertian dari para guru dalam menjalankan kegiatan pendidikan.
j. Melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan yang sebaik-baiknya.



2. Masalah penyesuaian Diri Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (remaja)
Persoalan krusial yang dihadapi peserta didik usia sekolah menengah (remaja) dalam kehidupan sehari-hari dan yang menghambat penyesuain diri adalah masalah hubungan remaja dengan orang dewasa, terutama orangtua.
a. Perkembangan penyesuaian diri remaja sangat bergantung pada sikap penolakan orangtua dan suasana psikologi dan sosial dalam kehidupan keluarga.
Penolakan orangtua terhadap anaknya dapat dibagi menjadi dua macam.
1) Penolakan yang bersifat tetap sejak awal, yaitu orangtua merasa tidak sayang kepada anaknya karena berbagai sebab, seperti tidak menghendaki kelaahiran.
Menurut Menurut Zakiah Darajat (1983) yang dikutip dari Boldwyn: “Bapak yang menolak anaknya akan berusaha menundukkan anaknya dengan kaidah-kaidah kekerasan, karena itu, ia mengambil ukuran kekerasan, kekejaman tanpa alasan nyata”.
2) Akibat dari penolakkan itu adalah pura-pura tidak tahu keinginan anak atau masalah anak.
Sebagai akibat dari kedua jenis penolakan, remaja tidak dapat menyesuaikan diri secara sehat dan cenderung menghabiskan waktunya di luar rumah.
b. Sikap orang tua yang memberikan perlindungan yang berlebihan juga berakibat tidak baik. Remaja yang mendapatkan perhatian dan kasih saying secara berlebihan akan menyebabkan ia tidak dapat hidup mandiri. Ia selalu mengharapkan bantuan dan perhatian orang lain dan ia berusaha menarik perhatian mereka, serta beranggapan bahwa perhatian seperti itu adalah haknya.
c. Sikap orangtua yang otoriter, yang memaksakan otoritasnya kepada remaja, juga akan menghambat proses penyesuaian diri mereka. Remaja akan berani melawan atau menentang orangtuanya. Pada gilirannya ia cenderung akan bersifat otoriter terhadap teman-temannya dan bahkan menentang otoritas orang dewasa, baik di sekolah maupun di masyarakat.
Jelaslah bahwa masalah penyesuaian diri yang dihadapi remaja dapat berasal dari keretakan keluarga atau akibat overproteksi. Hasil penelitian psikologis membuktikan bahwa remaja yang hidup dalam rumah tangga yang tidak harmonis cenderung akan mengalami masalah emosional, yang terlihat dari adanya kecenderungan marah-marah, suka menyendiri, serta sering gelisah dibandingkan dengan remaja yang hidup dalam lingkungan keluarga yang harmonis. Remaja yang dikeluarkan dari sekolah karena tidak dapat menyesuaikan diri pada umumnya datang dari lingkungan keluarga yang retak atau berantakan.
d. Perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan anak perempuan juga mempengaruhi hubungan antarmereka sehingga memungkinkan timbulnya rasa iri hati dalam jiwa anak perempuan terhadap saudaranya yang laki-laki. Keadaan ini akan menghambat proses penyesuaian diri anak perempuan.
e. Permasalahan penyesuaian pun akan muncul bagi remaja yang sering pindah tempat tinggal. Remaja yang keluarganya sering berpindah rumah, sehingga ia terpaksa pindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya sering mengalami banyak kesukaran dalam penyesuain dirinya. Bahkan, mungkin saja ia akan banyak tertinggal dalam pelajaran karena gurunya berbeda-beda dalam cara mengajarnya. Selain itu, ada pula masalah teman, yaitu kehilangan teman lama dan terpaksa mencari teman baru. Banyak remaja yang mengalami kesulitan dalam menjalin persahabatan dari hubungan sosial yang baru. Mungkin saja ia berhasil baik dalam hubungan sosial di sekolah lama, namun ketika pindah ke sekolah baru, ia menjadi tidak dikenal dan tidak ada yang memperhatikan. Di sini, remaja dituntut untuk dapat lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan masyarakat yang baru.
Masalah penyesuaian diri di sekolah mungkin akan timbul ketika remaja mulai memasuki jenjang sekolah lanjutan pertama maupun sekolah lanjutan atas. Mereka mungkin akan mengalami masalah penyesuaian diri dengan guru, teman, dan mata pelajaran. Sebagai akibatnya, prestasi belajar mereka menjadi menurun dibandingkan dengan prestasi di sekolah sebelumnya.
f. Persoalan umum yang sering dihadapi remaja antara lain memilih sekolah. Apabila mengharapkan remaja mempunyai penyesuain diri yang baik, seyogianya orangtua tidak mendikte mereka agar memilih jenis sekolah tertentu sesuai keinginannya. Orangtua dan guru hendaknya mengarahkan pilihan sekolah yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Tidak jarang terjadi, anak tidak mau sekolah, tidak mau belajar, suka membolos, dan sebagainya karena ia dipaksa orangtuanya untuk masuk sekolah yang tidak ia sukai.

3. Karakteristik Masalah Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (remaja)
Bagi sebagian besar orang yang sudah beranjak dewasa, bahkan melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun saat itu. Adapun bagi orangtua yang memiliki anak berusia remaja, mereka merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orangtua dan remaja itu sendiri. Banyak orangtua yang tetap menganggap anak remajanya masih perlu dilindungi dengan ketat sebab di mata mereka, ia masih belum siap menghadapi tantangan dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari jati diri yang mandiri dari pengaruh orangtua. Keduanya memiliki kesamaan yang jelas: remaja adalah waktu yang kritis sebelum menghadapi hidup sebagai orang dewasa.
Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasan usia maupun peranannya sering tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianngap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengategorian remaja. Hal ini karena usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18), kini terjadi pada awal belasan, bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami purbetas, namun tidak berarti ia sudah bias dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa meskipun di saat yang sama, ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya, sering mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.
Memang, banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun sering perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun, satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk memahami remaja, perlu dilihat berdasarkan dimensi-dimensi tersebut.
a. Dimensi Biologis
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas, yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri maupun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis, dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seseorang anak memiliki kemampuan untuk bereproduksi.
b. Dimensi Kognitif
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terrakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak.
c. Dimensi Moral
Masa remaja adalah periode saat seseorang mulai banyak bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dan sebagainya. Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada disekitarnya.
d. Dimensi Psikologis
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini, mood (suasana hati) bias berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Real Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk melakukan hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang dratis pada para remaja ini dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah,atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meskipun mood remaja mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.

4. Beberapa Masalah Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (remaja)
a. Permasalahan Kesehatan Anak Usia Sekolah
Usia anak adalah periode yang sangat menentukan kualitas masa remaja dan dewasa nanti. Sampai sekarang masih terdapat perbedaan dalam menentukan usia anak. Menurut UU No.20 tahun 2002 tentang perlindungan anak dikatakan bahwa usia anak adalah sebelum usia 18 thun dan belum menikah. American Academic of Pediabic tahun 1998 memberikan rekomendasi yang lain tentang batasan usia anak, yaitu mulai dari fetus (janin) hingga usia 21 tahun. Batas usia anak tersebut ditentukan berdasarkan pertumbuhan fisik dan psikososial, perkembangan anak, dan karakteristik kesehatannya.
Usia anaksekolah dibagi dalam usia prasekolah, usia sekolah, remaja, awal usia dewasa hingga mencapai tahap proses perkembangan yang sudah lengkap. Anak usia sekolah, baik tingkat prasekolah, sekolah dasar, Sekolah Menengah Pertama, maupun Sekolah Atas adalah suatu masa usia anak yang sangat berbeda dengan usia dewasa. Di dalam periode ini, banyak permasalahan kesehatan yang sangat menentukan kualitas anak dikemudian hari. Semua itu meliputi kesehatan umum, gangguan perkembangan, gangguan perilaku, dan gangguan belajar. Semua ini akan menghambat pencapaian prestasi anak di sekolah. Sayangnya permasalahan tersebut kurang begitu diperhatikan baik oleh orang tua maupun guru.
Orang tua dan guru adalah sosok pendamping saat anak melakukan aktivitas kehidupan setiap hari. Peran mereka sangat dominan dan menentukan kualitas hidup anak di masa depan. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi mereka untuk mengetahui dan memahami permasalahan dan gangguan kesehatan pada anak usia sekolah. Deteksi dini gagguan kesehatan pada anak usia sekolah dapat mencegah atau mengurangi komplikasi yang diakibatkan berbagai penyakit. Peningkatan perhatian terhadap kesehatan anak usia sekolah diharapkan dapat tercipta anak usia sekolah Indonesia yang cerdas, sehat, dan berprestasi.
1) Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Sekolah
Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, dan ukuran dan dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang bisa diukur dengan ukuran berat, panjang, umur tulang, dan keseimbangan metabolik. Adapun perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil proses pematangan. Hal ini menyangkut adanya proses diferensiasi sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk di dalamnya adalah perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Pertumbuhan berdampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ individu. Kedua kondisi tersebut terjadi sangat berkaitan dan sangat mempengaruhi setiap anak.
a) Jasmani
Adanya perubahan jasmani yang mendadak dan cepat iramanya sehingga menimbulkan kebingungan dalam diri anak. Secara biologis, ia telah matang dan siap untuk berperan sebagai pria atau wanita.
b) Jiwa
Perkembangan kecerdasan berkembang secara pesat, berpikirnya makin logis, dan kritis, fantasi makin kuat sehingga seringkali terjadi konflik sendiri, penuh dengan cita-cita, mencari realita, kebenaran dan tujuan hidup.
c) Rohani
Kehidupan agamanya berada dalam persimpangan jalan, ada perasaan tidak aman karena terjadi perubahan fisik, emosi, dan juga berpengaruh pada imannya sehingga kadang-kadang kekuasaan tradisi kepercayaan dianggap mempersempit kebebasan dirinya yang banyak menuruti keinginan diri sendiri (suara hatinya).
d) Sosial
Pengaruh yang besar datang dari kelompoknya (teman sebaya), perubahan perilaku berhubungan dengan kehidupan bersama, suka berkelompok dan masyarakat, ingin maju, suka membantu, sopan dan memperhatikan orang lain, dan sebaganya.
2) Permasalahan Kesehatan Anak Usia Sekolah
Secara epidermis, di Indonesia, penyebaran penyakit berbasis lingkungan di kalangan anak sekolah masih tinggi. Kasus infeksi seperti demam berdarah dengue, diare, cacingan, infeksi saluran pencernaan akut, serta reaksi simpangan terhadap makanan akibat buruknya sanitasi dan keamanan pangan. Selain itu, risiko gangguan kesehatan pada anak akibat pencemaran lingkungan dari berbagai proses kegiatan pembangunan yang semakin meningkat, seperti semakin meluasnya gangguan akibat paparan asap, emisi gas buang sarana transportasi, kebisingan, limbah industri dan rumah tangga, serta bencana. Selain lingkungan, masalah yang harus diperhatikan adalah bentuk perilaku sehat pada anak sekolah.
Permasalahan perilaku kesehatan pada anak usia TK dan SD biasanya berkaitan dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan seperti gosok gigi yang baik dan benar, kebiasaan cuci tangan pakai sabun, kebersihan diri. Pada anak usia SLTP dan SMU (Remaja), masalah kesehatan yang dihadapi biasanya berkaitan dengan perilaku berisiko, seperti merokok, perkelahian antar pelajar, penyalahgunaan NAPZA(Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya), kehamilan yang tidak diingini, abortus yang tidak aman, infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS.
Permasalahan yang lain yang belum begitu diperhatikan adalah masalah gangguan perkembangan dan perilaku pada anak sekolah. Gangguan perkembangan dan perilaku pada anak sekolah sangat bervariatif. Bila tidak dikenali dan ditangani sejak dini, gangguan ini akan mempengaruhi prestasi belajar dan masa depan anak. Selanjutnya, akan dibahas tentang permasalahan kesehatan anak usia sekolah, diantaranya adalah penyakit menular, penyakit noninfeksi, gangguan pertumbuhan, gangguan perkembangan dan perilaku.
a) Penyakit menular pada anak sekolah
Penyakit yang cukup mengganggu dan berpotensi mengancam jiwa adalah penyakit menular pada anak sekolah. Sekolah merupakan tempat yang paling memungkinkan sebagai sumber penularan penyakit infeksi pada anak usia sekolah. Infeksi menular yang dapat menular di lingkungan sekolah adalah: demam berdarah dengue, infeksi tangan mulut, campak, rubela (campak jerman), cacar air, gondong dan infeksi mata (konjungtivitas virus).
b) Penyakit noninfeksi
Penyakit noninfeksi ini tidak bisa menular tapi sangat membahayakan bagi anak yang terjangkit, anak yang terjangkit penyakit noninfeksi akan berakibat juga pada pertumbuahan anak sekolah. Penyakit noninfeksi ini meliputi: Alergi, infeksi parasit cacing, dan gangguan pertumbuhan.
c) Gangguan perkembangan dan perilaku anak sekolah
Gangguan perkembangan dan perilaku pada anak sangatlah luas dan bervaiasi. Gangguan yang dapat terjadi pada anak sekolah adalah gangguan belajar, konsentrasi, bicara, emosi, hiperaktif, ADHD, hingga autism.
3) Imunisasi Usia Sekolah
Menurut Program Pengembangan Imunisasi yang direkomendasikan Departemen Kesehatan Indonesia dan Ikatan Dokter Anak Indonesia, Imunisasi wajib yang harus diberikan untuk anak usia sekolah adalah DPT dan polio untuk anak kelas 1 SD, DT dan Tf untuk anak kelas VI dan polio ulang saat anak 16 tahun dan imunisasi campak ulang pada kelas 1 bila belum mendapatkan imunisasi MMR. Bila sebelum usia sekolah belum melakukan imunisasi, program imunisasi yang dilakukan adalah MMR dan cacar air.
4) Upaya Peningkatan Kesehatan Anak Sekolah
Untuk peningkatan kesehatan anak sekolah dengan titik berat pada upaya promotif dan preventif didukung oleh upaya kuratif dan rehabilitatif yang berkuasa, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi sangat penting dan strategis; untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. UKS bukan hanya dilaksanakan di Indonesia, tetapi dilaksanakan diseluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencanangkan konsep Sekolah Sehat atau Health Promoting School (Sekolah yang mempromosikan kesehatan).
5) Kesehatan Reproduksi Peserta Didik Usia Sekolah Menengah
Remaja adalah masa peralihan antara taap anak dan dewasa yang jangka waktunya berbeda-beda. Cirinya adalah alat-alat reproduksi mulai berfungsi, libido mulai muncul, intelegensi mencapai puncak perkembangannya, emosi sangat labil, kesetiakwanan yang kuat terhadap teman sebaya, dan belum menikah. Kurun usia remaja sering disebut sebagai peralihan periode strum und drang, yaitu periode peralihan antara anak-anak dan masa remaja dalam mempersiapkan diri menuju kedewasaan (mencari identitas diri, memantapkan posisi dalam masyarakat tersebut, dan sebagainya.) maupun oleh pertumbhan fisik (perkembangan tanda-tanda seksual sekunder, pertumbuhan tubuh yang tidak proporsional, dan sebaginya.) dan perubahan emosi (lebih peka, lebih cepat marah, agresif, dan sebagainya), serta perkembangan intelegasinya (makin tajam bernalar, makin kritis, dan sebagainya.)
Kurun usia remaja ini berbeda-beda panjangnya dari waktu ke waktu dan tempat ke tempat. Pada masyarakat primitif (pedesaan), usia remaja relatif singkat. Karena pada waktu anak sudah menunjukkan tanda-tanda akhil balig, dilakukan upcara inisiasi dan setelah itu anak sudah berstatus dewasa. Syaratnya pun tidak terlalu berat, asalkan bisa membantu ayah di sawah atau membantu ibu di dapur. Adapun pada masyarakat modern, kurun usia remaja bisa lebih panjang, antara 11-24 tahun. Penyebabnya adalah semakin awal tanda-tanda akil balig, maka persyaratan untuk menjadi remaja semakin berat (harus sekolah dulu, punya pekerjaan dulu).
Dengan panjangnya akil balig pertama sampai kematangan sosial yang diharapkan, akan menimbulkan peluang lebih besar bagi hubungan seks pranikah dengan segala akibatnya: kehamilan tanpa rencana, kawin muda, aborsi, dikeluarkan dari sekolah, anak luar nikah dan penyakit menular seksual, termasuk AIDS. Hal ini didorong oleh penyebaran pornografi dan rangsangan seksual lainnya sehubungan makin canggihnya teknologi media dan komunikasi massa.
Cara-cara yang dapat diambil untuk mengurangi seks bebas adalah agama, dan pendidikan seks. Apabila para remaja mengenal pendidikan agama dan mempunyai iman yang kuat, agama akan dapat menjadi benteng dari perbuatan-perbuatan maksiat. Cara lainnya adalah dengan memberikan pendidikan seks, pendidikan seks bukan hanya penerangan tentang seks, tetapi mengandung makna nilai-nilai (baik-buruk, benar-salah).
b. Masalah Remaja dan Rokok
Meskipun semua orang tau bahaya yang ditimbulkan akibat merokok, akan tetapi para perokok tidak pernah surut dan tampaknya dapat di tolerir oleh masyarakat. Hal yang paling memprihatinkan adalah usia perokok yang setiap tahun semakin muda. Bila dulu orang mulai berani merokok saat SMP, maka sekarang anak-anak SD kelas 5 sudah merokok secara diam-diam.
1) Bahaya rokok
Rokok sangat merugikan bagi kesehatan, akan tetapi masih banyak orang yang tetap memilih untuk menikmatinya. Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker.
2) Tipe-tipe perokok
Seseorang dapat dikatakan sebagai perokok berat apabila mengkonsumsi 31 batang rokok setiap harinya dan selang merokoknya 5 menit setelah bangun pagi. Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang sehari dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6-30 menit. Perokok sedang menghabiskan rokok 11-21 batang dengan selang waktu 31-60 menit setelah bangun pagi. Perokok ringan menghabiskan rokok sekitar 10 batang dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi.
Menurut Silvan Tomkins (dalam Al Bachri 1991), ada 4 tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theory, keempat type tersebut adalah:
a) Type perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif.
b) Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif.
c) Perilaku merokok yang adiktif.
d) Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan.
3) Penyebab remaja merokok
a) Pengaruh orang Tua
b) Pengaruh teman
c) Faktor kepribadian
d) Pengaruh iklan
4) Upaya pencegahan
Dalam upaya prevensi, motivasi untuk menghentikan perilaku merokok penting untuk dipertimbangkan dan dikembangkan. Dengan menumbuhkan motivasi untuk berhenti atau tidak mencoba untuk merokok akan membuat mereka tidak terpengaruh oleh godaan merokok yang datang dari teman, media massa, atau kebiasaan keluarga atau orang tua.
c. Remaja dan Perilaku Konsumtif
Belanja adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam konteks perekonomian, baik di dunia usaha maupun rumah tangga. Namun kata ini telah berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. Belanja juga mempunyai arti tersendiri bagi remaja.
1) Pola hidup konsumtif
Kata konsumtif berarti keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan dengan mencapai tujuan dengan kepuasan maksimal.
2) Perilaku konsumtif remaja
Bagi produsen, kelompok usia remaja merupakan salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikut teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagaian produsen untuk memasuki pasar remaja.
d. Perkelahian Pelajar
Perkelahian atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi diantara pelajar. Bahkan, bukan “hanya” antarpelajar SMU, tetapi juga sudah melanda kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.
1) Dampak perkelahian pelajar
Jelas bahwa perkelahian pelajar ini sangat merugikan banyak pihak. Paling tidak ada 4 dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian jelas mengalami dampak negatif apabila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin yang dikhawatirkan para pendidik, adalah kurangnya penghargaan siswa terhadap perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain.
2) Pandangan umum terhadap perkelahian pelajar
Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, atau dari keluarga dengan ekonomi rendah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini, Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 diantaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga ekonominya, sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga yang mampu secara ekonomi.
Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama dikota besar, masalahnya begitu kompleks, meliputi faktor psikologis, budaya, sosiologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), seta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.
3) Tinjauan psikologi penyebab remaja terlibat perkelahian
Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam individu (sering disebut kepribadian, walaupun tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarka, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis yang menyebabkan perkelahian pelajar.
a) Faktor Internal
Remaja yabf terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks disini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsangan dari lingkungan yang semakin lama semakin beragam dan banyak. Situasi ini akan menimbulkan tekanan pada setiap orang.
b) Faktor keluarga
Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orangtua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga wajar apabila dia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orangtua yang terlalu melindungi anaknya, menyebabkan si anak ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirinya secara total terhadap kelompoknya sebagai identitas yang dibangunnya.


c) Faktor sekolah
Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebgai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu, tetapi terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas mengajarnya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan diluar sekolah bersama teman-temannya. Setelah itu, masalah pendidikan, dan guru jelas memainkan peranan yang penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya jega menggunakan kekerasan dalam mendidik siswanya.
d) Faktor lingkungan
Lingkungan diantara rumah dan sekolah sehari-hari dialami remaja, juga membawa dampak terhadap munclnya perkelahian. Misalnya dilingkungan rumag yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semua itu dapat merangsang remaja erbuat sesuatu dari lingkungannya, kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.
5) Faktor penyebab perilaku agresi
Bagi warga jakarta, aksi-aksi kekerasan, baik individual maupun massa, mungkin merupakan berita harian. Saat ini beberapa televisi, bahkan membuat program-program khusus yang menyiarkan berita-berita tentang kekerasan. Hal-hal yang terjadi pada saat tawuran sebenarnya adalah perilaku agresi dari seorang individu atau kelompok. Agresi itu sendiri oleh Murray (dalam Hall & Lindzey, psikologi Kepribadian, 1993) didiefinisikan sebagai suatu cara melawan dengan sangat kuat, berkelahi, melukai, menyerang, membunuh, atau menghukum orang lain atau secara singkatnya agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain.


Faktor-faktor yang dapat menadi pemicu perilaku agresi tersebut antara lain:
1) Amarah
2) Faktor biologis
3) Kesenjangan generasi
4) Lingkungan
5) Peran belajar model kekerasan
6) Frustasi
7) Proses kedisiplinan yang keliru

5. Penanganan Masalah Remaja dengan cara Mekanisme Pertahanan Diri
Sebagian individu mereduksi perasaan, kecemasan,stress, ataupun konflik dengan melakukan mekanisme pertahanan diri, baik yang ia lakukan secara sadar ataupun tidak. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Freud sebagai berikut: Such defense mechanism are put into operation whenever anxiety signals a danger that the original unacceptabla impulses may reemerge (Microsoft Encarta Encyclopedia 2002).
freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya dan hanya mengubah cara individu memersepsi atau memikirkan masalah itu. Jadi, mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur penipuan diri.
Istilah mekanisme bukan istilah yang paling tepat karena menyangkut semacam peralatan mekanik. Istilah tersebut mungkin karena Freud banyak dipengaruhi oleh kecenderungan abad ke-19 yang memandang manusia sebagai mesin yang rumit. Berikut beberapa mekanisme pertahanan diri yang biasa terjadi dan dilakukan oleh sebagian besar individu, terutama remaja yang sedang mengalami pergaulan dahsyat dalam perkembangannya kea rah kedewasaan. Mekanisme pertahanan diri berikut, diantaranya dikemukakan oleh Freud, tetapi beberapa orang yang lain merupakanhasil pengembangan ahli psikionalistis lainnya.

a. Represi
Represi didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan frustasi, konflik batin, mimpi buruk, krisis keuangan dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan. Bila represi terjadi, hal-hal yang mencemaskan itu tidak akan memasuki kesadaran walaupun masih tetap ada pengaruhnya terhadap perilaku. Jenis-jenis amnesia tertentu dapat dipandang sebagai bukti adanya represi, tetapi represi juga dapat terjadi dalam situasi yang tidak terlalu menekan. Bahwa individu merepresikan mimpinya, karena mereka membuat keinginan di bawah sadar yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Pada umumnya, banyak individu yang pada dasarnya menekankan aspek positif dari kehidupannya. Beberapa bukti, misalnya:
1) Individu cenderung untuk tidak berlama-lama mengenali sesuatu yang tidak menyenangkan, dibandingkan dengan hal-hal yang menyenangkan,
2) Berusaha sedapat mungkin untuk tidak melihat ganbar kejadian yang menyesakkan dada,
3) Lebih sering mengomunikasikan berita baik daripada berita buruk,
4) Lebih mudah mengingat hal-hal yang positif daripada yang negative,
5) Lebih sering menekankan kejadian yang membahagiakan dan enggan menekankan yang tidak membahagiakan.
b. Supresi
Supresi merupakan suatu proses pengendalian diri yang terang-terangan ditujukan untuk menjaga agar impuls-impuls dan dorongan yang ada tetap terjaga (mungkin dengan cara menahan perasaan itu secara pribadi, tetapi mengingkarinya secara umum). Individu sewaktu-waktu mengesampingkan ingatan-ingatan yang menyakitkan agar dapat menitikberatkan kepada tugas. Ia sadar akan pikiran-pikiran yang ditindas (supresi), tetapi umumnya tidak menyadari akan dorongan-dorongan atau ingatan yang ditekan (represi).
c. Reaction Formation (Pembentukan Reaksi)
Individu dikatakan mengadakan pembentukan reaksi ketika dia merusaha menyembunyikan motif dan perasaan yang sesungguhnya (mungkin dengan cara supresi atau represi), dan menampilkan ekspresi wajah yang berlawanan dengan yang sebetulnya. Dengan cara ini, individu tersebut dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang disebabkan oleh keharusan untuk menghadapi ciri-ciri pribadi yang tidak menyenangkan. Kebencian, misalnya tidak jarang dibuat samar dengan menampilkan dan tindakan yang penuh kasih saying, atau dorongan seksual yang besar dibuat samar dengan sikap sok suci, dan permusuhan ditutupi dengan tindak kebaikan.
d. Fiksasi
Dalam menghadapi kehidupannya, individu dihadapkan pada suatu situasi menekan yang membuatnya frustasi dan mengalami kecemasan, sehingga individu tersebut merasa tidak sanggup lagi untuk menghadapinya dan membuat perkembangan normalnya terhenti untuk sementara atau selamanya. Dengan kata lain, individu menjadi terfiksasi pada satu tahap perkembangan karena tahap berikutnya penuh dengan kecemasan. Individu yang sangat bergantung pada individu lain merupakan salah satu contoh pertahanan diri dengan fiksasi, kecemasan menghalanginya untuk menjadi mandiri. Remaja yang mengalami perubahan drastic sering dihadapkan untuk melakukan mekanisme ini.
e. Regresi
Regresi merupakan respon yang umum bagi individu bila berada dalam situasi frustasi, setidak-tidaknya pada anak-anak. Ini dapat pula terjadi bila individu yang menghadapi tekanan kembali melakukan sesuatu yang khas bagi individu yang berusia lebih muda. Ia memberikan respon seperti individu yang lebih muda (anak kecil).
f. Menarik diri
Reaksi ini merupakan respon yang umum dalam mengambil sikap. Bila individu menarik diri, dia memilih untuk tidak mengambil tindakan apapun. Biasanya repon ini disertai dengan depresi dan sikap apatis.
g. Mengelak
Bila merasa diliputi oleh stress yang lama, kuat dan terus menerus, individu cenderung untuk mencoba mengelak atau mereka akan menggunakan metode yang tidak langsung.
h. Denial (Menyangkal Kenyataan)
Bila individu menyangkal kenyataan, dia menganggap tidak ada atau menolak adanya pengalaman yang tidak menyenangkan (sebenarnya mereka sadari sepenuhnya) dengan maksud untuk melindungi dirinya sendiri. Penyangkalan kenyataan juga mengandung unsure penipuan diri.
i. Fantasi
Dengan berfantasi pada apa yang mungkin menimpa dirinya, individu sering merasa mencapai tujuan dan dapat menghindari dirinya dari peristiwa-peristiwa yangtidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan kecemasan dan dapat menimbulkan frustasi.
j. Rasionalisasi
Rasionalisasi sering dimaksudkan sebagai usaha individu untuk mencari-cari alas an yang dapat di terima secara social untuk membenarkan atau menyembunyikan perilaku yang buruk. Rasionalisasi juga muncul ketika individu menipu dirinya sendiri dengan berpura-pura menganggap yang buruk adalah baik,atau yang baik adalah buruk.
k. Intelektualitas
Apabila individu menggunakan teknik intelektualitas, dia menghadapi situasi yang seharusnya menimbulkan perasaan yang sangat amat menekan dengan cara analitik, intelektual, dan sedikit menjauhdari persoalan.
l. Proyeksi
Individu yang menggunakan teknik proyeksi biasanya sangat cepat dalam memperlihatkan cirri pribadi individu lain yang tidak dia sukai dan apa yang dia perhatikan itu cenderung dibesar-besarkan. Teknik ini mungkin dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan karena dia harus menerima kenyataan akan keburukan dirinya sendiri. Dalam hal ini supresi atau represi sering dipergunakan.

6. Isue-isue Terkini Masalah Remaja dan Upaya Penanganannya
a. Masalah: Kriminalitas remaja seperti tawuran antar sekolah
Solusi:
1) Pihak sekolah: memberikan bimbingan konseling
Memberikan kegiatan-kegiatan positif yang non akademik (ekskul), adanya sanksi tegas dari tawuran.
2) Pihak keluarga terutama ortu: memberikan pendidikan moral, menciptakan lingkungan yang harmonis, melakukan pengawasan secara berkala, komunikasi terus terjaga.
b. Masalah: Free sex
solusi:
1) Pihak sekolah: memberikan pendidikan sekx (reproduksi remaja sejak dini), menyelenggarakan seminar-seminar tentang seks bebas, seminar-seminar keagamaan, koordinasi dengan ortu.
2) Pihak keluarga: menciptakan suasana yang harmonis, ortu harus bisa menjadi tempat berbagi seolah-olah menjadi teman, mengenali lingkungan si anak baik lingkungan sekolah maupun pertemanan.
c. Masalah: Narkoba
solusi:
1) Pihak sekolah: memberikan pendidikan sekx (reproduksi remaja sejak dini), menyelenggarakan seminar-seminar tentang seks bebas, seminar-seminar keagamaan, koordinasi dengan ortu.
2) Pihak keluarga: menciptakan suasana yang harmonis, ortu harus bisa menjadi tempat berbagi seolah-olah menjadi teman, mengenali lingkungan si anak baik lingkungan sekolah maupun pertemanan.

C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah.
a. Orang yang paling berpengaruh dalam mengarahkan seorang remaja adalah peran aktif orangtua.
b. Lingkungan sekolah juga berpengaruh terhadap perkembangan jiwa remaja, selain mengemban fungsi pengajaran, sekolah juga mengemban fungsi pendidikan.

D. DAFTAR RUJUKAN
Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: Pustaka Setia Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar